INFO24.ID – Pernyataan pendiri Saiful Mujani Research and Consulting, Saiful Mujani, yang beredar luas di media sosial dalam momentum kegiatan halal bihalal memicu kritik dari berbagai elemen masyarakat. Narasi yang dinilai mengandung ajakan menggulingkan pemerintahan Prabowo Subianto tersebut dianggap berpotensi mengganggu stabilitas nasional dan mencederai etika demokrasi.
Ketua Umum Relawan Anak Bangsa Nasional, Agus Winarno, menilai pernyataan tersebut tidak mencerminkan sikap intelektual yang bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa. Menurutnya, seorang akademisi seharusnya berperan menjaga rasionalitas publik, bukan memicu kegaduhan politik di ruang sosial.
“Ajakan menggulingkan pemerintahan yang sah merupakan preseden buruk dalam demokrasi. Kritik adalah hak setiap warga negara, tetapi menghasut delegitimasi kekuasaan yang lahir dari pemilu adalah langkah yang tidak bijak dan berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap sistem negara,” tegas Agus Winarno kepada awak media, Selasa 7 April 2026.
Ia menjelaskan, Indonesia sebagai negara hukum telah memiliki mekanisme konstitusional yang jelas dalam melakukan koreksi terhadap jalannya pemerintahan. Karena itu, setiap seruan yang keluar dari koridor demokrasi dinilai bertentangan dengan semangat reformasi serta nilai-nilai Pancasila.
Agus juga menyoroti penggunaan momentum halal bihalal sebagai ruang penyampaian gagasan politik yang konfrontatif. Menurutnya, tradisi tersebut seharusnya menjadi sarana mempererat persaudaraan dan memperkuat rekonsiliasi kebangsaan setelah dinamika politik.
“Halal bihalal adalah tradisi persatuan bangsa Indonesia. Menjadikannya panggung agitasi politik adalah kekeliruan moral sekaligus kesalahan etika publik,” ujarnya.
Lebih lanjut, Agus menilai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini tengah menghadapi tantangan global yang kompleks, mulai dari ketegangan geopolitik hingga fluktuasi harga energi dunia. Dalam situasi tersebut, pemerintah dinilai berupaya menjaga stabilitas ekonomi nasional, termasuk melalui kebijakan mempertahankan harga BBM agar daya beli masyarakat tetap terjaga.
“Ketika negara sedang bekerja menjaga stabilitas ekonomi dan sosial, seluruh elemen bangsa seharusnya memperkuat optimisme nasional, bukan menyebarkan narasi yang memecah persatuan,” katanya.
Ia menambahkan, peran intelektual sangat penting dalam menjaga moral publik, terutama di era digital ketika pernyataan tokoh dapat dengan cepat menyebar dan memengaruhi persepsi masyarakat luas.
“Bangsa besar tidak dibangun oleh seruan menjatuhkan, tetapi oleh gagasan memperkuat. Demokrasi Indonesia harus dijaga dengan kedewasaan berpikir dan loyalitas terhadap konstitusi,” tegasnya.
Agus Winarno kembali mengingatkan bahwa stabilitas nasional merupakan fondasi utama pembangunan. Perbedaan pandangan tetap dihormati, namun harus disampaikan dalam kerangka menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Indonesia membutuhkan intelektual pemersatu, bukan provokator situasi. Kepentingan bangsa harus selalu berada di atas kepentingan politik sesaat,” pungkasnya.











