Info

Waduk Saguling Kritis, Gerakan Pager Saguling Lahir untuk Jaga Pasokan Listrik Jawa-Bali

×

Waduk Saguling Kritis, Gerakan Pager Saguling Lahir untuk Jaga Pasokan Listrik Jawa-Bali

Sebarkan artikel ini
Waduk Saguling Kritis, Gerakan Pager Saguling Lahir untuk Jaga Pasokan Listrik Jawa-Bali

INFO24.ID – Kondisi ekologi Waduk Saguling dan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum yang kian kritis menjadi pemantik utama lahirnya sebuah gerakan penyelamatan lingkungan berbasis komunitas. Bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) pada Rabu (20/5/2026), Pangauban Gerakan Santri Gugus Lingkungan (Pager Saguling) resmi dideklarasikan di Villa Perancis, Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat. Gerakan sosial-ekologis ini lahir sebagai respons darurat terhadap ancaman nyata runtuhnya ekosistem air yang menjadi urat nadi Jawa-Bali.

Deklarasi ini digerakkan oleh urgensi lingkungan yang sudah berada di titik nadir. Berdasarkan data terbaru PLN Indonesia Power UBP Saguling per Mei 2026, sekitar 94 hektare permukaan air waduk kini telah tertutup rapat oleh ledakan populasi eceng gondok. Penutupan vegetasi ini mengancam kadar oksigen dalam air dan mempercepat pendangkalan. Kondisi ini diperparah oleh catatan Kementerian Lingkungan Hidup yang menunjukkan bahwa tak kurang dari 200 ton sampah terus masuk dan mencemari DAS Citarum setiap harinya. Akibatnya, laju sedimentasi di Waduk Saguling melonjak drastis hingga mencapai angka mengkhawatirkan, yaitu 4,2 juta meter kubik per tahun.

Dampak dari kerusakan lingkungan ini tidak bisa diremehkan. Waduk Saguling merupakan benteng sekaligus pintu pertama hulu Sungai Citarum sebelum aliran airnya mengalir ke Waduk Cirata dan Jatiluhur. Sistem tiga waduk bertingkat ini merupakan penopang utama pasokan listrik wilayah Jawa-Bali serta sumber air bagi jaringan irigasi pertanian di seluruh kawasan Citarum hilir. Pencemaran masif dan sedimentasi tinggi di Saguling secara langsung mengancam ketahanan energi nasional dan keberlanjutan pangan masyarakat.

Di tengah ancaman katastrofe ekologis inilah, Pager Saguling hadir menggalang kekuatan dari santri, budayawan, akademisi, dan masyarakat sipil. Digawangi oleh lima inisiator—Haris Bunyamin selaku konseptor, Vega Karwanda, Henda Suwenda, Kustiwa Kartawiria, dan Ustadz Hedar Suhendar—gerakan ini mengusung misi penyelamatan air melalui tema bahasa Sunda, “Ngahudang Kasadaran, Ngariksa Lingkungan, Ngajaga Cai Pikeun Kahirupan Bangsa” (Membangkitkan Kesadaran, Menjaga Lingkungan, Menjaga Air untuk Kehidupan Bangsa).

Secara filosofis, nama gerakan ini mengacu pada istilah “aub” yang bermakna keteraturan dan kesabaran kolektif, serta “pangauban” yang berarti ruang berhimpun untuk gotong-royong di bawah satu naungan pelestarian alam. Simbolisasi pemulihan alam ditunjukkan melalui prosesi budaya “Ngahudang Cai” atau Membangunkan Air. Prosesi ini dilakukan dengan mengambil air dari mata air (seke) purba di kawasan Saguling yang masih tersisa, dilanjutkan dengan doa bersama dan pembagian bibit pohon kepada seluruh peserta sebagai langkah awal reboisasi kawasan tangkapan air. Di sela acara, panitia juga menyalurkan santunan kepada puluhan anak yatim dan dhuafa yang tinggal di kampung-kampung sekitar waduk.

Melalui naskah deklarasi yang dibacakan bersama, Pager Saguling merumuskan lima pilar aksi moral yang berorientasi pada pemulihan bumi. Pertama, menjadikan gerakan moral dan sosial ini sebagai garda depan dalam menjaga lingkungan hidup sebagai amanah Tuhan dan warisan peradaban. Kedua, mencetak kader-kader lingkungan berbasis pesantren dan komunitas pemuda. Ketiga, mengembangkan pendekatan ekoteologis untuk membangun kesadaran bahwa menjaga alam adalah bagian dari ibadah dan akhlak sosial.

Pilar keempat secara spesifik menargetkan tindakan pemulihan fisik lingkungan, yakni mendorong rehabilitasi sungai, penghijauan masif, pengelolaan sampah mandiri, konservasi air, serta transisi menuju ekonomi hijau. Terakhir, pilar kelima menegaskan kesiapan mereka menjadi mitra strategis masyarakat dan pemerintah dalam mengawal isu ekologi menuju Indonesia Emas 2045.

Dukungan terhadap restorasi lingkungan ini juga ditegaskan oleh Guru Besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. Asep Saeful Muhtadi, M.A., melalui tausiah kebangsaan yang membedah pentingnya teologi lingkungan dalam dakwah. Acara juga dibuka dengan doa dan sekapur sirih oleh Drs. H. Agus Ishak dari Pondok Pesantren Arafah.

Sejumlah pejuang lingkungan senior dan tokoh masyarakat Jawa Barat turut hadir memberikan dukungan penuh terhadap gerakan ini, di antaranya Memet Ahmad Surahman (Eyang Memet), Dr. Kun-Kunrat M.Si, Ketua KORMI Jabar Ir. Denda, Dr. Endang SH MH, serta perwakilan Pusat Peran Serta Masyarakat (PPM), Agus Khazim dan Zaki Zimatillah Z.

Untuk memastikan gerakan lokal ini berdampak luas, Pager Saguling menggandeng KSS Trust Fund melalui Treasury Board sebagai pendamping kelembagaan. Kolaborasi ini membawa misi penyelamatan lingkungan lokal tersebut ke tingkat internasional melalui visi Towards a new Global Partnership of Civil Society for Environmental Restoration and Ecological Sustainability. Sebuah langkah awal dari pesantren untuk pemulihan bumi yang berkelanjutan.