Info

Peringatan International Women’s Day di Tasikmalaya Jadi Ruang Diskusi Hak dan Pemberdayaan Perempuan

×

Peringatan International Women’s Day di Tasikmalaya Jadi Ruang Diskusi Hak dan Pemberdayaan Perempuan

Sebarkan artikel ini

INFO24.ID – Puluhan orang memperingati International Women’s Day (IWD) 2026 di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 7–8 Maret 2026. Kegiatan tersebut digelar oleh Konsorsium IWD Tasik 2026 yang terdiri dari 36 organisasi di Tasikmalaya.

Peringatan tahun ini mengangkat tema “Rights, Justice, Action for All Women and Girls: Together Against Oppression.” Tema tersebut menekankan pentingnya perjuangan bersama dalam memperjuangkan hak, keadilan, dan tindakan nyata bagi perempuan serta anak perempuan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan diskusi publik pada 7 Maret 2026 di Cinamons Coffee. Kegiatan dilanjutkan dengan dialog terbuka serta pengembangan soft skill pada 8 Maret 2026 di Alun-Alun Kota Tasikmalaya.

Salah satu penggerak Konsorsium IWD Tasik 2026, Febrianti Nurzakiah, mengatakan kegiatan ini dilatarbelakangi oleh keresahan terhadap masih adanya ketimpangan posisi perempuan dalam kehidupan sosial dan politik.

“Kami melihat perempuan masih sering ditempatkan pada posisi kedua dalam berbagai ruang sosial dan politik. Hal itu menunjukkan bahwa perempuan kerap dipandang lemah dan hanya menjadi pelengkap,” ujar Febrianti.

Menurut dia, diskusi publik yang digelar menjadi ruang untuk membahas berbagai isu terkait hak dasar perempuan, kesetaraan, hingga pemberdayaan.

Febrianti menilai kesadaran serta keberanian perempuan untuk menunjukkan kapasitasnya menjadi langkah penting dalam memperjuangkan kesetaraan.

“Jika perempuan tidak memiliki ruang untuk membuktikan dirinya mampu, maka kesetaraan hak di ranah sosial dan politik akan sulit terwujud,” katanya.

Sementara itu, penggerak Konsorsium IWD Tasik 2026 lainnya, Khalilah Atha, menegaskan bahwa International Women’s Day tidak sekadar menjadi perayaan tahunan.

“International Women’s Day bukan hanya seremoni. Momentum ini menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan untuk mendapatkan hak yang setara masih harus terus dirawat,” ujar Atha.

Ia menambahkan, kegiatan dialog terbuka dan pengembangan soft skill sengaja dirancang sebagai ruang aman dan inklusif bagi perempuan untuk belajar serta memperkuat keberanian dalam menyuarakan pendapat.

“Kami mengajak semua pihak untuk bersama melawan berbagai bentuk penindasan dengan menyuarakan kebenaran. Yang terpenting adalah tidak memilih untuk diam,” kata Atha.