INFO24.ID – Korea Utara meluncurkan sedikitnya dua rudal balistik pada Ahad (4/1/2026), hanya beberapa jam setelah Amerika Serikat melakukan serangan kilat di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro. Peluncuran tersebut memperbesar ketegangan global dan dipandang sebagai sinyal peringatan Pyongyang terhadap potensi ancaman terhadap rezimnya.
Peluncuran rudal dilakukan bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung ke China, sekutu utama Korea Utara. Ini merupakan uji coba rudal balistik pertama Pyongyang dalam dua bulan terakhir.
Militer Korea Selatan mengidentifikasi rudal yang diluncurkan sebagai Rudal Balistik Jarak Menengah (IRBM) dan Rudal Balistik Antarbenua (ICBM). Salah satu di antaranya disebut sebagai Hwasong-18, ICBM berbahan bakar padat yang memungkinkan peluncuran cepat dengan waktu persiapan minimal, sehingga lebih sulit terdeteksi oleh sistem peringatan dini.
Selain itu, Korea Utara juga meluncurkan rudal balistik taktis jarak pendek KN-23 atau Hwasong-11A. Rudal ini dikenal memiliki lintasan terbang rendah dan kemampuan bermanuver untuk menghindari sistem pertahanan udara. Peluncuran beruntun tersebut dinilai sebagai unjuk kemampuan serangan taktis dan strategis Pyongyang.
Pemerintah Korea Utara mengecam keras tindakan Amerika Serikat di Venezuela dan menilai Washington telah melanggar kedaulatan negara lain. Pyongyang menyatakan, tindakan tersebut mencerminkan watak agresif AS dan menjadi peringatan bagi negara-negara yang dianggap berseberangan.
Rudal-rudal tersebut diluncurkan dari wilayah sekitar Pyongyang menuju perairan di antara Semenanjung Korea dan Jepang. Militer Korea Selatan menyebut rudal terbang sejauh sekitar 900 kilometer, sementara Jepang mencatat lintasan hingga 950 kilometer.
Peluncuran ini dilakukan beberapa jam sebelum Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung memulai kunjungan ke Beijing untuk bertemu Presiden China Xi Jinping. Kunjungan tersebut bertujuan membahas perdamaian di Semenanjung Korea dan peran China dalam mendorong dialog denuklirisasi.
Sejumlah pengamat menilai peluncuran rudal ini juga ditujukan kepada China. Profesor Institut Studi Asia Timur di Seoul, Lim Eul-chul, menyebut Pyongyang ingin mengirim pesan agar Beijing tidak mempererat hubungan dengan Seoul serta menunjukkan sikap keras terhadap agenda denuklirisasi.
Reaksi keras datang dari Seoul dan Tokyo. Kantor Kepresidenan Korea Selatan menggelar rapat keamanan darurat dan mendesak Korea Utara menghentikan tindakan provokatif yang melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB. Jepang juga melayangkan protes resmi dan menyatakan peluncuran tersebut mengancam stabilitas kawasan.
Sementara itu, Komando Indo-Pasifik Amerika Serikat menyatakan bahwa peluncuran rudal tersebut tidak menimbulkan ancaman langsung bagi wilayah atau personel AS maupun sekutunya, namun Washington terus berkoordinasi dengan mitra regional.
Peluncuran ini terjadi di tengah peningkatan aktivitas militer Korea Utara. Sehari sebelumnya, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menyerukan peningkatan kapasitas produksi senjata berpemandu taktis saat mengunjungi sebuah pabrik amunisi. Dalam beberapa pekan terakhir, Kim juga dilaporkan menginspeksi fasilitas persenjataan strategis, termasuk kapal selam dan sistem rudal.
Analis menilai, rangkaian langkah ini menunjukkan upaya Pyongyang mempertegas posisinya sebagai kekuatan militer dan nuklir yang siap melakukan pencegahan agresif di tengah dinamika geopolitik global yang semakin tidak stabil.











