INFO24.ID – Tradisi Ngikis menjelang bulan suci Ramadhan kembali digelar di Situs Apun Pager Gunung atau Situs Singaperbangsa, Desa Mekarmukti, Kecamatan Cisaga, Kabupaten Ciamis, Sabtu (14/2/2026).
Kegiatan budaya tahunan tersebut melibatkan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh adat, budayawan, paguyuban masyarakat, hingga generasi muda setempat.
Tradisi Ngikis merupakan upacara adat turun-temurun yang dilakukan masyarakat Cisaga menjelang Ramadhan. Ritual ini ditandai dengan pergantian pagar bambu di area situs, doa bersama, serta penyiraman makam leluhur sebagai simbol pembersihan diri dan penghormatan kepada para pendahulu.
Prosesi berlangsung khidmat di kompleks makam Dalem Singaperbangsa III yang berada di kawasan situs tersebut. Sejumlah tokoh adat memimpin rangkaian acara mulai dari tawasul, pembacaan sejarah singkat situs, hingga pemasangan pagar bambu baru yang mengelilingi area makam.
Selain prosesi adat, kegiatan juga diisi dengan doa bersama serta pertunjukan seni tradisional yang ditampilkan oleh Paguyuban Sunda Papua (Sundapa). Pertunjukan seni tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian budaya Sunda di tengah masyarakat.
Pelaksanaan tradisi ini mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Ciamis melalui Dinas Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disbudpora). Keterlibatan pemerintah daerah, tokoh adat, serta masyarakat dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan tradisi lokal.
Budayawan Ciamis, Aip Ki Sunda, mengatakan tradisi Ngikis tidak hanya sekadar ritual budaya, tetapi juga memiliki makna filosofis yang mendalam bagi masyarakat.
“Ngikis merupakan bentuk rasa syukur sekaligus komitmen untuk menjaga marwah budaya Sunda,” ujar Aip.
Ia menjelaskan, secara filosofis Ngikis dimaknai sebagai upaya memagari diri dan menyucikan hati serta jiwa sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Melalui ritual tersebut, masyarakat diingatkan untuk mengganti perbuatan buruk dengan perbuatan yang lebih baik.
Salah satu puncak prosesi dalam tradisi Ngikis adalah penyiraman makam menggunakan air suci yang diambil dari sejumlah mata air di wilayah Kabupaten Ciamis. Air tersebut dipercaya melambangkan kesucian serta harapan akan keberkahan bagi masyarakat.
Aip berharap tradisi ini dapat terus dilaksanakan setiap tahun dan semakin melibatkan generasi muda agar tidak tergerus arus modernisasi.
“Harapannya generasi muda ikut terlibat sehingga tradisi ini tetap hidup dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat,” kata dia.
Menurutnya, Situs Singaperbangsa juga diharapkan tidak hanya menjadi peninggalan sejarah, tetapi dapat berkembang sebagai pusat pembelajaran budaya dan spiritualitas bagi masyarakat Kabupaten Ciamis.











