Info

Diskusi Gender Digelar di Unsil Tasikmalaya, Soroti Pentingnya Safe Space bagi Perempuan

×

Diskusi Gender Digelar di Unsil Tasikmalaya, Soroti Pentingnya Safe Space bagi Perempuan

Sebarkan artikel ini

INFO24.ID – Mahasiswa Universitas Siliwangi (Unsil) Kota Tasikmalaya menggelar diskusi publik dalam rangka memperingati International Women’s Day 2026. Kegiatan tersebut berlangsung pada 9 Maret 2026 dan mengangkat tema Empowering Women in a Safe Space.

Diskusi ini diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Women and Gender Studies (UKM WGS) Universitas Siliwangi. Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus wadah berbagi pandangan mengenai isu perempuan dan kesetaraan gender di lingkungan kampus.

Ketua Umum UKM Women and Gender Studies, Nur Rachmi Ghayatri, mengatakan diskusi ini bertujuan memberikan ruang yang aman bagi perempuan untuk menyampaikan gagasan maupun pengalaman tanpa rasa takut atau dihakimi.

“Kegiatan ini menjadi upaya kami untuk mendorong perempuan agar berani bersuara di ruang yang aman tanpa harus merasa dihakimi,” ujar Rachmi.

Ia menjelaskan, peserta yang hadir dalam diskusi tersebut sebagian besar berasal dari anggota dan pengurus UKM WGS yang didominasi oleh mahasiswa perempuan. Padahal, menurutnya kegiatan tersebut terbuka bagi siapa saja.

Rachmi mengaku cukup menyayangkan minimnya partisipasi mahasiswa laki-laki dalam kegiatan tersebut. Padahal informasi mengenai diskusi telah disebarkan melalui berbagai media sosial.

“Diskusi ini sebenarnya terbuka untuk umum. Kami berharap ke depan lebih banyak peserta dari berbagai latar belakang, termasuk laki-laki, agar diskusi bisa lebih beragam dari berbagai sudut pandang,” katanya.

Menurutnya, pembahasan mengenai isu perempuan dan gender perlu terus dilakukan, terutama di lingkungan akademik. Diskusi seperti ini diharapkan dapat memperkaya perspektif serta meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kesetaraan gender.

Rachmi menambahkan, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu memberikan motivasi bagi perempuan yang masih menghadapi budaya patriarki di lingkungannya.

“Harapannya diskusi ini dapat menumbuhkan semangat bagi perempuan untuk terus berjuang dan berdaya. Selain itu juga membuka kesadaran publik bahwa isu gender perlu terus dibicarakan agar tercipta keharmonisan di lingkungan kampus maupun masyarakat,” pungkasnya.