Info

Nyarungsum di Cimedang, Ketika DKKT Menyatu dengan Alam dan Niat Kebudayaan

×

Nyarungsum di Cimedang, Ketika DKKT Menyatu dengan Alam dan Niat Kebudayaan

Sebarkan artikel ini

INFO24.ID – Gemericik air Curug Cimedang Malaganti mengiringi rapat kerja Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya (DKKT) periode 2025–2030. Di ruang alam terbuka itu, gagasan seni dan kebudayaan tidak sekadar dibahas, tetapi dinyarungsum—diramu dengan rasa, niat, dan kesadaran akan pentingnya harmoni antara manusia dan alam.

Ketua DKKT terpilih periode 2025–2030, Tatang Pahat, mengatakan pemilihan Curug Cimedang sebagai lokasi rapat kerja memiliki makna filosofis yang dalam.

“Seni dan budaya tidak bisa dilepaskan dari alam. Dalam pandangan Sunda, alam adalah guru. Kami ingin gagasan-gagasan kebudayaan lahir dari ruang yang jujur, tenang, dan apa adanya,” kata Tatang.

Rapat kerja ini diikuti tujuh komite di bawah DKKT, yakni Komite Sastra, Tari, Musik, Rupa, Teater, Fotografi dan Perfilman, serta Komite Budaya. Masing-masing komite menyampaikan evaluasi program, tantangan, dan rencana kerja ke depan dalam suasana diskusi yang terbuka dan egaliter.

Menurut Tatang, rapat kerja ini juga bertujuan membangun sinergitas dan kolaborasi dengan sesama pegiat seni budaya di wilayah Kabupaten Tasikmalaya. Ia menegaskan bahwa seni budaya tidak mengenal sekat administratif.

“Secara administratif kita bisa dibedakan kota dan kabupaten, tapi dalam seni budaya tidak ada batas wilayah. Yang ada adalah kebersamaan, saling menguatkan, dan tanggung jawab menjaga warisan budaya,” ujarnya.

Kehadiran DKKT Kota Tasikmalaya disambut dengan prosesi penyambutan sederhana oleh pegiat seni budaya setempat. Meski tanpa kemegahan, suasana khusyuk dan tulus terasa kuat sebagai simbol persaudaraan dan kebersamaan.

Salah satu pengurus DKKT menyebutkan bahwa suasana tersebut menjadi pengingat pentingnya menjaga harmoni antarsesama pelaku seni budaya dan harmoni dengan alam sekitar.

“Kebersamaan ini harus dirawat. Tanpa rasa persaudaraan, seni hanya akan menjadi kegiatan seremonial, bukan kekuatan budaya,” katanya.

Selain sebagai forum internal, rapat kerja ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung publikasi Curug Cimedang sebagai destinasi wisata alam yang potensial di Kabupaten Tasikmalaya. DKKT menilai kawasan tersebut memiliki daya tarik wahana alam yang masih segar dan relevan dengan pendekatan seni berbasis lingkungan.

“Kami ingin seni hadir sekaligus memberi nilai tambah bagi ruang-ruang alam, termasuk memperkenalkan Curug Cimedang kepada publik yang lebih luas,” ujar Tatang.

Pesan penting lain yang ingin disampaikan DKKT melalui rapat kerja ini adalah peran seni dan budaya sebagai garda depan keberlangsungan kehidupan daerah. Menurut Tatang, seni budaya harus menjadi mercusuar yang menerangi identitas lokal sekaligus membuka jalan menuju pengakuan nasional dan internasional.

“Seni budaya harus menjadi denyut nadi kehidupan daerah. Ia bukan pelengkap, tapi fondasi dan mercusuar peradaban,” tegasnya.

Rangkaian rapat kerja ditutup dengan prosesi memandikan Tatang Pahat sebagai Ketua DKKT terpilih. Dalam tradisi Sunda, prosesi tersebut dimaknai sebagai simbol pembersihan niat dan peneguhan tekad sebelum menjalankan amanah kepemimpinan.

“Ini pengingat bagi saya pribadi bahwa memimpin DKKT harus dimulai dari niat yang bersih, agar setiap langkah benar-benar berpihak pada kemajuan seni dan budaya Tasikmalaya,” ujar Tatang.

Dari Curug Cimedang, DKKT membawa pulang bukan hanya rumusan program kerja, tetapi juga kesadaran bersama bahwa seni dan budaya hanya akan hidup jika dijaga dengan rasa, dirawat dengan kebersamaan, dan dijalankan dengan kejujuran.