INFO24.ID – Stunting masih menjadi persoalan kesehatan serius di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Kota Kendari. Data Dinas Kesehatan menunjukkan prevalensi stunting di Kecamatan Wua-Wua berada di atas ambang batas standar WHO.
Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia, produktivitas jangka panjang, hingga masa depan anak-anak di wilayah tersebut.
Situasi itu mendorong berbagai pihak mencari terobosan untuk menekan angka stunting. Salah satu inovasi muncul dari Herlina, Penyuluh KB Kecamatan Wua-Wua, yang menggagas program “Kecap Asing”—singkatan dari Keluarga Peduli Pencegahan dan Penanganan Anak Stunting.
Program tersebut lahir sebagai upaya mengubah pendekatan penanganan stunting yang selama ini lebih bertumpu pada intervensi medis dan bantuan pangan. Menurut Herlina, peran keluarga sering kali hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat, bukan sebagai aktor utama dalam proses pencegahan dan penanganan.
“Keluarga bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga aktor penting dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting,” ujarnya.
Gagasan itu muncul dalam pertemuan Tim Pendamping Keluarga (TPK) se-Kecamatan Wua-Wua pada 3 Desember 2025. Herlina berharap Kecap Asing dapat berkembang menjadi gerakan besar yang memberikan kontribusi nyata bagi percepatan penurunan angka stunting, tidak hanya di Wua-Wua tetapi juga di tingkat Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara, hingga nasional.
Ia menambahkan bahwa pendekatan berbasis keluarga diharapkan menjadi energi baru bagi Penyuluh KB dan tenaga kesehatan dalam memperkuat edukasi, pendampingan, serta pemantauan tumbuh kembang anak.
Hadirnya Kecap Asing disambut baik masyarakat dan para pendamping keluarga. Program ini diyakini dapat memperkuat sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan keluarga sebagai garda terdepan dalam menghadapi persoalan stunting.












